Wahyu Bagas Pratama

“You do not live at once. You only die once and live every day.”

Wahyu Bagas Pratama

“We will never know the real answer, before you try.”

Wahyu Bagas Pratama

“If you want the respect of others, you must respect yourself first.”

Wahyu Bagas Pratama

“Your biggest mistake is dying including your poverty.”

Wahyu Bagas Pratama

“Be a strong wall in the hard times and be a smiling sun in the good times.”

Wahyu Bagas Pratama

“Do not blame your past, because the past will never change.”

Wahyu Bagas Pratama

“Every successful person must have a failure. Do not be afraid to fail because failure is a part of success.”

Wahyu Bagas Pratama

“When someone left you, do not cry because that is the message that you’re going to get a better one.”

Sabtu, 27 Desember 2014

Semua desa di perbatasan masih tertinggal




 Sudah dua bulan Marwan Jafar menjabat Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Posisi boleh dibilang sesuai pengalamannya.

Sejak didapuk menjadi menteri, politikus dari Partai Kebangkitan Bangsa ini mengaku langsung mengerjakan semua program. Marwan juga salah satu konseptor Rancangan Undang-undang Desa. "Iya memang. Itu betul, saya tidak berbohong," kata Marwan saat ditemui Senin pekan lalu di kantornya, Jalan Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

Di sela kepadatan jadwalnya, dia memberikan waktu untuk wawancara khusus. Dia menjawab semua pertanyaan sambil mengisap sebatang rokok putih.

Berikut penuturan Marwan kepada Arbi Sumandoyo, Pramirvan Datu Aprilatu, dan juru foto Imam Buchori dari merdeka.com.

Apa akan Anda lakukan dalam lima tahun ke depan?

Ini kita sudah cepat. Semua program sudah kita luncurkan. Semua perencanaan, revisi anggaran, dan perangkat-perangkat lain sudah kita buat. Termasuk kita resmikan tadi, sistem informasi desa online.

Program ini bisa mengakses semua desa?

Semua desa bisa diakses sepanjang sistem online-nya ada di daerah-daerah. Kalau daerah-daerah terpencil belum ada BTS otomatis agak sulit.

Apa yang sudah Anda kerjakan selama dua bulan menjabat?

Sudah ini, sudah mulai. Kemudian saya sudah menginstruksikan kepala desa untuk membikin Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Bayangkan selama ini baru ada empat ribu BUMDES dari 17 ribu desa.

Berapa target untuk membangun BUMDES?

Target saya 2015 sudah membangun lima ribu BUMDES.

Apa ini merupakan pekerjaan dari menteri sebelumnya?

Era sebelumnya nggak kerja. Masak, dari dulu sejak ada Kementerian Dalam Negeri cuma ada empat ribu BUMDES. Ini kan awalnya di Kementerian Dalam Negeri, kemudian bergabung dengan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.

Apa gebrakan Anda lakukan?

Saya bikin nawa kerja, itu di ambil dari nawa cita. Saya bikin masing-masing lima ribu desa mandiri, BUMDES, pasar desa, Sistem online, dan struktrur pedesaan.

Itu target tadi dibilang untuk tahun depan?

Iya, 2015 untuk jangka pendek.

Bagaimana Anda memantau program itu?

Dengan adanya sistem online begini, saya sudah bisa berkomunikasi langsung dengan kepala-kepala desa di Kecamatan Cipanas, Cianjur. Jadi kita bisa langsung kontrol lewat e-blusukannya Kementerian Desa.

Itu untuk memantau daerah tidak terjangkau?

Iya, kita kontrol langsung dengan menggunakan video call. Kalau kebetulan saya ada jadwal keluar kota, kita blusukan ke desa-desa, daerah-daerah tertinggal, daerah-daerah transmigrasi. Kan, nggak mungkin 74.000 desa dikunjungi semua. Nggak masuk akal. Maka paling efektif adalah lewat video call. Tadi sudah kita lakukan.

Apakah ide awal pembuatan UU Desa itu benar dari PKB?

Iya memang. Itu betul, saya tidak berbohong. Ketika pimpinan dewan menyurati fraksi-fraksi untuk mengusulkan lima prioritas undang-undang, tidak ada satu fraksi atau partai pun mengusulkan RUU Desa. Kami mengusulkan RUU Desa.

Bagaimana kelanjutannya saat itu?

Kan terus bergulir toh (dengan logat Jawa kental). Harus masuk di Prolegnas dulu, kemudian Bamus, Pansus, dan pembahasan. Tapi sebagai inisiator pertama itu hanya PKB.

Artinya UU Desa dengan anggaran Rp 1,4 miliar per desa itu juga salah satu upaya PKB?

Justru melakukan itu. Kita usulkan sejak awal adalah sepuluh persen dari total anggaran APBN. Kalau total APBN Rp 2.000 triliun seperti sekarang, anggran desanya Rp 200 triliun. Tapi ini sepuluh persen bukan dari APBN secara keseluruhan, namun diambil dari dana transfer daerah.

Tapi waktu itu pengajuannya memang sepuluh persen dari APBN?

Ya, sepuluh persen dari APBN. Kalau sekarang bukan sepuluh persen dari APBN secara keseluruhan karena pemerintah tidak setuju. Sekarang itu adalah sepuluh persen dari dana transfer daerah nilainya saat ini Rp 700 triliun. Jadi, diambil sepuluh persennya.

Bagaimana soal alokasi dana itu ke desa-desa?

Dana dari sini (pusat) kemudian masuk APBD kabupaten. Itu mekanismenya. Gubernur, bupati, camat, kepala desa, sudah kita kirimi surat edaran bagaimana tata caranya. Lalu ada fasilitator dan pendamping akan memberikan tiga arahan. Pertama, bagaimana mengelola uang secara transparan dan bertanggung jawab. Kedua, bagaimana menyusun program desa. Ketiga, bagaimana peningkatan kualitas sumber daya aparatur desa sekaligus penguatan kelembagaannya.

Kapan dana buat desa itu terwujud?

Ini kan masih ada waktu, mulai Januari sampai April.

Artinya tahun depan sudah mulai kerja keras?

Ya, artinya akan mulai latihan untuk penguatan kelembagaan desa, melatih aparatur desa sekaligus menyiapkan laporan, menyusun program. Makanya desa-desa tidak membuat RPJMDES maupun RKPDES, tidak akan kita kucurkan dananya. Artinya mereka belum siap dana pembangunannya.

Dana Rp 1,4 miliar itu akan digelontorkan per desa sekaligus?

Per desa tapi secara bertahap.

Ada berapa tahap?

Tergantung kita dikasihnya berapa lama sama Bappenas. Saya ajukan maksimal tiga tahun selesai karena bertahap. Kemarin ini setelah pidato presiden cuma 9,7 persen. Itu artinya dibagi 73 ribu desa cuma Rp 120 juta per desa. Kurang kan. Makin gede kita kirim, target cepat tercapai.

Artinya butuh dana besar untuk itu?

Ya dan harus ada kemauan politik dari pemerintah untuk keleluasaan dana pada Kementerian Desa.

Sejauh ini pemerintah bagaimana?

Kita semua harus komitmen karena semuanya bagian dari nawacita kerja Presiden Jokowi juga. Kita mengajukan tiga tahun sudah selesai. Kita geber satu kali nggak mungkin juga, jebol APBN kita. Artinya sektor lain tidak akan dapat. Belum lagi untuk pembangunan desa dan daerah tertinggal lain. Tidak hanya dana desa tapi ada juga yang lain.

Dalam waktu dekat ini daerah mana bakal Anda kunjungi?

Kita setiap minggu kemana-mana. Kalau tidak ada urusan di Jakarta kita pasti akan keliling. Kita urus persiapan dan segala macam.

Saat dilantik Anda mengatakan akan berkantor di desa?

Kita berkantor di desa bukan berarti kita bikin kantor lagi di desa. Jadi begini. Sehari kita ke empat kantor. Bagaimana mengontrol administrasi, keuangan, aparatur, pembangunan, penggunaan anggaran desa, dan sebagainya.

Bagaimana Anda memantau dana Rp 1,4 miliar per desa itu?

Itu fasilitator. Kan ada temen-temen dari LSM Desa, para pegiat desa, semua kita rangkul. Tentu dalam rangka saling mendukung, memberikan kontribusi pemikiran, saling mengoreksi. Kan, enak begitu.

Ketika merangkul berbagai kalangan, apakah Anda yakin dana itu bisa dikelola dengan baik?

Iya dong, harus masuk ke desa sesuai ketentuan pemerintah. Tidak boleh dipangkas karena kepala desa sebagai kuasa pengguna anggaran. Kalau kepala desa melakukan sesuatu dengan kekuatan dia punya maka dia akan kena konsekuensinya. Dia akan diaudit oleh BPKP langsung karena dia sebagai kuasa penerima anggaran. Tidak seperti dulu, dana desa melalui bupati.

Artinya bupati atau camat tidak bisa mengintervensi?

Kepala desa bertanggung jawab penuh, langsung kepala desa. Nanti kita akan pantau. Makanya sistem online tadi itu untuk memudahkan komunikasi dengan kepala desa. Tinggal kita klik desa mana, kita langsung bisa tanyakan kepala desanya.

Dari 74 ribu desa, apa permasalahan harus segera diselesaikan?

Masih ada 40 persen desa tertinggal atau kurang lebih ada 32 ribu desa. Desa-desa tertinggal ini mempunyai keluhan. Pertama soal infrastruktur. Kedua soal jaringan telekomunikasi. Ketiga soal sumber daya manusia. Keempat, terisolasinya mereka itu harus dibuat konektivitas antar daerah.

Ini harus ada termasuk membangun BTS-BTS di daerah. Belum tentu semuanya bisa lihat TV loh ya. Listrik saja masih belum terjangkau.

Empat kondisi itu terjadi di desa-desa di perbatasan?

Ya, semua.

Jumat, 21 November 2014

Dampak Stratifikasi Sosial Dalam Kehidupan Masyarakat



Stratifikasi sosial akan selalu ditemukan dalam masyarakat selama di dalam masyarakat tersebut terdapat sesuatu yang dihargai. Mungkin berupa uang atau benda-benda bernilai ekonomis, atau tanah, kekuasaan, ilmu pengetahuan, kesalehan agama, atau keturunan keluarga terhormat. Seseorang yang banyak memiliki sesuatu yang dihargai akan dianggap sebagai orang yang menduduki pelapisan atas. Sebaliknya mereka yang hanya sedikit memiliki atau bahkan sama sekali tidak memiliki sesuatu yang dihargai tersebut, mereka akan dianggap oleh masyarakat sebagai orang-orang yang menempati pelapisan bawah atau berkedudukan rendah.

Stratifikasi sosial adalah pembedaan masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial berdasarkan demensi vertikal akan memiliki pengaruh terhadap kehidupan bersama dalam masyarakat. Berikut ini dampak stratifikasi sosial dalam kehidupan masyarakat:

1.      Eklusivitas
Stratifikasi sosial yang membentuk lapisan-lapisan sosial juga merupakan subculture, telah menjadikan mereka dalam lapisan-lapisan tertentu menunjukan eklusivitasnya masing-masing. Eklusivitas dapat berupa gaya hidup, perilaku dan juga kebiasaan mereka yang sering berbeda antara satu lapisan dengan lapisan yang lain.
Gaya hidup dari lapisan atas akan berbeda dengan gaya hidup lapisan menengah dan bawah. Demikian juga halnya dengan perilaku masing-masing anggotanya dapat dibedakan, sehingga kita mengetahui dari kalangan kelas sosial mana seseorang berasal.
Eklusivitas yang ada sering membatasi pergaulan di antara kelas sosial tertentu, mereka enggan bergaul dengan kelas sosial dibawahnya atau membatasi diri hanya bergaul dengan kelas yang sama dengan kelas mereka.

2.      Etnosentrisme
Etnosentrisme dipahami sebagai mengagungkan kelompok sendiri, dapat terjadi dalam stratifikasi sosial yang ada dalam masyarakat. Mereka yang berada dalam stratifikasi sosial atas akan menganggap dirinya adalah kelompok yang paling baik dan menganggap rendah dan kurang bermartabat kepada mereka yang berada pada stratifikasi sosial rendah.
Pola perilaku kelas sosial atas dianggap lebih berbudaya dibandingkan dengan kelas sosial di bawahnya. Sebaliknya kelas sosial bawah akan memandang mereka sebagai orang boros dan konsumtif dan menganggap apa yang mereka lakukan kurang manusiawi dan tidak memiliki kesadaran dan solidaritas terhadap mereka yang menderita. Pemujaan terhadap kelas sosialnya masing-masing adalah wujud dari etnosentrisme.

Konflik Sosial
Perbedaan yang ada di antara kelas sosial dapat menyebabkan terjadinya kecemburuan sosial maupun iri hati. Jika kesenjangan karena perbedaan tersebut tajam tidak menutup kemungkinan terjadinya konflik sosial antara kelas sosial satu dengan kelas sosial yang lain.
Misalnya demonstrasi buruh menuntut kenaikan upah atau peningkatan kesejahteraan dari perusahaan dimana mereka bekerja adalah salah satu konflik yang terjadi karena stratifikasi sosial yang ada dalam masyarakat.
Stratifikasi sosial kadang akan membedakan warga masyarakat menurut kekuasaan dan pemilikan materi. Kriteria ekonomi selalu berkaitan dengan aktivitas pekerjaan, kepemilikan kekayaan, atau kedua-duanya. Dengan begitu, pendapatan, kekayaan, dan pekerjaan akan membagi anggota masyarakat ke dalam beberapa stratifikasi atau kelas ekonomi.
Dalam stratifikasi sosial terdapat tiga kelas sosial, yaitu: masyarakat yang terdiri dari kelas atas (upper class), masyarakat yang terdiri kelas menengah (middle class) dan kelas bawah (lower class). Orang-orang yang berada pada kelas bawah (lower) biasanya lebih banyak (mayoritas) daripada di kelas menengah (middle) apalagi pada kelas atas (upper). Semakin ke atas semakin sedikit jumlah orang yang berada pada posisi kelas atas (upper class).
Dalam kehidupan masyarakat terdapat kriteria yang dipakai untuk menggolongkan orang dalam pelapisan sosial adalah sebagai berikut:

 Ukuran kekayaan
Seseorang yang memiliki kekayaan paling banyak, ia akan menempati pelapisan di atas. Kekayaan tersebut misalnya dapat dilihat dari bentuk rumah, mobil pribadinya, cara berpakaian serta jenis bahan yang dipakai, kebiasaan atau cara berbelanja dan seterusnya.

Ukuran kekuasaan
Seseorang yang memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar akan menempati pelapisan yang tinggi dalam pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan.

Ukuran kehormatan
Orang yang disegani dan dihormati akan mendapat tempat atas dalam sistem pelapisan sosial. Ukuran semacam ini biasanya dijumpai pada masyarakat yang masih tradisional. Misalnya, orangtua atau orang yang dianggap berjasa dalam masyarakat atau kelompoknya. Ukuran kehormatan biasanya lepas dari ukuran-ukuran kekayaan dan kekuasaan.

Ukuran ilmu pengetahuan
Ilmu pengetahuan digunakan sebagai salah satu faktor atau dasar pembentukan pelapisan sosial di dalam masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan.
Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa pelapisan sosial dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat, seperti adanya perbedaan gaya hidup dan perlakuan dari masyarakat terhadap orang-orang yang menduduki pelapisan tertentu. Stratifikasi sosial juga menyebabkan adanya perbedaan sikap dari orang-orang yang berada dalam stratasosial tertentu berdasarkan kekuasaan, privilese dan prestise. Dalam lingkungan masyarakat dapat terlihat perbedaan antara individu, atau satu keluarga lain, yang dapat didasarkan pada ukuran kekayaan yang dimiliki. Yang kaya ditempatkan pada lapisan atas dan miskin pada lapisan bawah. Atau mereka yang berpendidikan tinggi berada di lapisan atas sedangkan yang tidak sekolah pada lapisan bawah. Dari perbedaan lapisan sosial ini terlihat adanya kesenjangan sosial. Hal ini tentu merupakan masalah sosial dalam masyarakat.
Perbedaan sikap tersebut tercermin dari gaya hidup seseorang sesuai dengan strata sosialnya. Pola gaya hidup tersebut dapat dilihat dari cara berpakaian, tempat tinggal, cara berbicara, pemilihan tempat pendidikan, hobi dan tempat rekreasi.

Cara Berpakaian
Seseorang yang tergolong dalam strata sosial atas dapat dilihat dari gaya busananya. Biasanya orang-orang kelas atas menggunakan busana dan aksesoris lain, seperti sepatu, tas, jam tangan yang bermerek dan dari luar negeri. Sedangkan mereka yang termasuk strata sosial menengah ke bawah, lebih memilih menggunakan barang-barang produksi dalam negeri.

Tempat Tinggal
Pada umumya masyarakat kelas atas akan membangun rumah yang besar dan mewah dengan gaya arsitektur yang indah. Masyarakat kelas atas lebih menyukai tinggal di kawasan elite dan apartemen mewah yang dilengkapi dengan fasilitas modern. Sedangkan masyarakat yang tergolong strata menengah lebih memilih bentuk dan tipe rumah yang sederhana bahkan ada juga yang tinggal di rumah susun.

Cara Berbicara
Cara berbicara orang-orang yang tergolong strata atas akan berbeda dengan orang-orang yang berada dalam strata bawah. Mereka yang termasuk dalam golongan strata atas memiliki gaya berbicara yang beradaptasi dengan istilah-istilah asing serta penuh dengan kesopanan. Sedangkan orang-orang yang berada dalam strata bawah terkadang suka berbicara yang tidak terlalu memperhatikan etika.

Pendidikan
Pendidikan menjadi faktor yang paling penting bagi setiap masyarakat. Umumnya masyarakat strata atas memilih memasukkan anak-anak mereka pada sekolah-sekolah ataupun universitas-universitas yang berkualitas tinggi termasuk sekolah di luar negeri. Sedangkan bagi masyarakat yang menduduki pelapisan bawah lebih memilih menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah dalam negeri.

Hobi dan Rekreasi
Menyalurkan hobi serta berekreasi merupakan hal-hal yang diperhatikan oleh masyarakat yang berada dalam pelapisan atas. Biasanya orang-orang yang berada dalam strata atas memilih olahraga yang ekslusif seperti golf, balap mobil, serta menyalurkan hobi, seperti main piano, main biola, menonton orkestra, mengoleksi lukisan-lukisan mahal dan sebagainya. Begitu pula berekreasi, mereka lebih memilih berekreasi ke luar daerah atau bahkan ke luar negeri. Sedangkan, bagi masyarakat yang tergolong strata bawah, lebih memilih hobi dan berekreasi yang tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya, seperti bermain sepak bola, dan berekreasi ke tempat yang dekat dengan tempat tinggal mereka.

Jumat, 02 Mei 2014

Ujian Nasional-Dilema sang guru



Di luar terdengar lagu dangdut murahan dibunyikan keras-keras. Sedangkan aku.. aku menjejalkan lagu korea ke telingaku. Bukan tidak mencintai karya negeri sendiri. Tapi cinta memang tidak bisa dipaksakan akan jatuh kemana. Hari-hari sudah cukup menekan disini tanpa lagu-lagu dangdut itu. Sedikit pelepas ketegangan hanya itu yang aku butuhkan. Alunan lembut suara IU… sejenak… bisa membuatku melupakan badai yang sedang berkecamuk di hati, pikiran dan tubuhku.

Entah kemana idealisme itu sudah kulemparkan. Mungkin seperti batu hitam yang jatuh ke laut dalam atau seperti bumerang milik suku Aborigin yang kini sedang berbalik menyerangku. Yang kulakukan adalah pengkhianatan. Bukan terhadap orang lain, tapi terhadap diriku sendiri. Apakah rupiah itu? Atau memang kelemahan yang sudah lama ada bahkan sebelum idealisme ku menemukan namanya. Hanya karena permintaan menghiba dari seorang kepala sekolah yang juga menjadi korban sistem kemunafikan dalam lembaga pendidikan yang seharusnya didirikan untuk menjadi wadah perubahan dan pencetak para cendikia.
“Tolong lah… Bu. Anak-anak kita tak akan bisa lulus jika mereka harus mengerjakan soal itu sendiri”,
“Kasihan mereka Bu, sebagai guru, inilah yang kita bisa berikan bagi mereka”.

Ya. Satu pertolongan terakhir bagi anak-anak pulau yang lebih gemar bermain dan melaut ketimbang belajar. Toh, mereka semua akan lulus juga. Lihatlah lah coreng moreng itu sekarang. Di tempat ini, mereka malah dibimbing untuk berlaku curang. Salahkah anak-anak itu jika moral mereka terus terdegradasi, di tempat etika seharusnya berlaku mutlak, mereka malah menemukan pelecehan terhadap etika moral dan kejujuran diinjak blak-blakan.

Semua kobaran kemarahan dan idealisme itu padam seperti tersiram air dingin. Aku benci melihat diriku bersusah payah mengerjakan soal-soal sialan itu. Seribu kali!!! Mau jadi apa siswa-siswa itu? Kabupaten yang ingin namanya harum mengambil jalan pintas berbagai rupa. Hemh! Lihat saja jalan yang sudah disediakan itu, berubah menjadi semak belukar. Jalan pintas itu kini sudah serupa jalan tol, lengkap dengan pintu, penjaga dan tarifnya. Kemanakah jalan itu menuju? Ke dunia luar yang memang persis seperti inilah keadaanya, kurang lebih. Apakah cara-cara yang diterapkan memang sudah tepat, mengingat setamatnya mereka dari sekolah, mereka akan terjun dan berbaur dalam masyarakat. Mereka sudah kami ajarkan untuk mengenal kata ‘kompromi’ dan kami didik untuk memahami dengan pasti bahwa ‘tidak ada peraturan yang tidak bisa dilanggar’. Dan trik untuk mencapai sukses dalam hidup.. yaitu… ‘jangan melawan arus’. Mereka juga sudah kami bekali dengan rumus untuk bisa bertahan dalam dunia nyata ‘kejujuran hanya dipakai seperlunya saja’. Karena begitulah yang marak mereka lihat di televisi, jika channel favorit mereka yang menayangkan sinetron kebetulan sedang iklan dan mereka melewati saluran tv yang terus-menerus memutarkan berita. Karena begitulah yang terjadi di indonesia.

Hidup memang pilihan, dan aku sudah memilih untuk ikut terlibat dalam permainan ini. Hanya karena aku tak mau didiskualifikasi karena melanggar peraturan yang sudah ditetapkan, play unfair. Menyadari kalau ternyata aku tidak cukup tangguh untuk bisa berkata ‘tidak’, membungkam suara yang biasa kuteriakkan… aku pun tak jauh berbeda.

Pendidikan harus selalu menyesuaikan dengan perubahan jaman, itulah yang sedang berlaku saat ini. Bagaimana pendidikan moral bisa diterapkan jika moral para pendidiknya saja masih patut dipertanyakan. Bukan gaji yang besar yang dibutuhkan, tapi jiwa yang berkali-kali lipat lebih besar untuk bisa bertahan dalam profesi ini dan tetap waras. Pelan-pelan… aku sudah mulai membenci anak-anak ini. Di mataku, mereka adalah kertas buram dan lusuh. Bukan kertas putih yang masih kosong yang bisa dicat warna-wani pelangi. Aku mendadak kehilangan kemampuanku untuk melihat sisi putih dari legam kulit mereka. Anak-anak itu sudah menjadi kriminil sejak masih di sekolah dasar. Menyalahkan keluarga dan lingkungan mereka adalah yang kami lakukan disini. Bukan perasaan seperti ini yang ingin aku rasakan ketika memutuskan untuk mengikuti program sm3t. Ottokhe… bagaimana dengan hatiku. Bagaimana dengan idealismeku. Bagaimana nasib pendidikan negeri ini kelak? Tempat ini punya kekuatan untuk membangkitkan seluruh sisi negatifku. Kini aku hanyalah seorang guru yang pesimis dan apatis.


Guru SM 3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal)

Hidup dan Lukisan

picture by:Basoeki Abdulah

Berlalu sudah tahun 2013 digantikan dengan lembaran baru tahun 2014. Orang yang BIJAKSANA adalah orang yang dengan hati lapang selalu belajar dari sejarah pengalaman hidupnya. hidup ini bagaikan sebuah KANVAS yang kita LUKIS dengan aneka ragam pengalaman hidup kita bersama Tuhan. aneka warna pun telah menghias dan menyemarakkan hari-hari kita, kadang hitam, kadang putih, kadang abu-abu, dsb....


Saat dipenghujung tahun 2013 kita membingkainya dengan hati bijaksana dan rasa syukur kepadaNya. saatnya kita menilai layak tidaknya lukisan ini dipertontonkan bagi khalayak untuk kemuliaan Tuhan. Kejujuran, Keterbukaan, dan kebesaran hati sangat diperlukan agar lukisan tahun depan akan lebih baik dari tahun kemarin.

Orang yang bijaksana adalah orang yang menghargai hidup dan kehidupan yang dipercayakan Allah kepadanya. Tuhan sangat menghargai setiap orang yang menghargai kepercayaan yang diberikan kepadanya dengan cara mengembangkan potensi hidupnya secara maksimal. Ia akan selalu memperhitungkan setiap kelelahan, usaha, setiap dedikasi, waktu, tenaga dan apapun yang kita Investasikan dalam tugas yang dipercayakanNya. dan sebaliknya Ia sangat mengutuk setiap kemalasan, dan sikap yang tidak bertanggung jawab.

Saatnya menilai apakah aku tergolong sebagai hamba yang baik dan setia atau hamba yang jahat dan malas 
semoga kita semakin bijak, semakin berbuah, semakin mengasihi Tuhan dan semakin Komit kepada Tuhan dan pekerjaanNya disepanjang tahun 2014 kedepan.... 

Mari kita membuka kanvas yang baru. ambillah kuas dan cat kehidupan serahkan kepada Dia. Biarkan Tuhan yang mulai menggoreskan warna-warna kehidupan itu kedalam setiap pribadi kita.
sehingga ketika tiba waktunya Nanti kita membingkainya dengan Bangga, karena hidup kita telah dilukis oleh Tangan sang Maestro
Master Pelukis kehidupan atas CiptaanNya sendiri.

Munafik Atas Perasaan

Tanah tak terasa dipijak,  pandangan mata gelap dan hati mengeras..  itulah yang terjadi ketika ego menguasai hati,  dia tidak memberikan ruang sedikitpun kepada rasa cinta dan kasih sayang, untuk berlabuh. 
Hanya sesaat saja…  bagaikan kemarau setahun dihapus hujan sehari.  Kasih sayang yang dibina dengan ketulusan tidak dianggap dan lenyap begitu saja. 
Hujatan, makian keluar dari mulut tanpa henti,  ketidakpuasan, kelemahan menjadi senjata untuk saling memaki dan memaki. Kemanakah hatinurani itu pergi,  dan mengapa emosi dan ego itu menguasai…?
Hati memang cinta dan terkadang mulut tak dikontrol menjadi pemicunya… keinginan untuk menjadikan keadaan lebih baik dan membuat orang berubah menjadikan mulut tidak terkontrol.  Semua merasa tersakiti… Ketika disadari perubahan itu mesti dimulainya bukan untuk diinginkan saja

Selasa, 29 April 2014

Tentang Wahyu Bagas Pratama

Tentang Saya.

Wahyu Bagas Pratama
Madiun, 26 Juni 1994 

"kadang hidup ini bukan hanya sekedar pilihan, namun juga kewajiban"

Terlahir dengan watak sanguinis dan plegmatis, membuat ku menjadi orang yang suka melakukan sesuatu karena kesenangan, menjalani hidup dengan kebahagiaan dan kedamaian. aku sadar bahwa watak itu bisa diubah dengan kerja keras dan usaha dari diri pribadi. dan aku sangat sadar bahwa hidup ini memang bukan hanya tentang senang, ada duka dan tujuan jangka panjang yang harus dikejar, dan semua itu bukanlah jalan yang penuh dengan kesenangan dan kebahagiaan. Jalan itu panjang, terjal, dan berliku. terkadang ada air deras di depan yang membuat ku terpaksa berhenti sejenak untuk berpikir untuk menyeberanginya. inilah kehidupan, yang merupakan persinggahan sementaraku. sesusah apapun yang akan aku hadapi di depan, akan aku lalui dengan kemasan kebahagiaan dan kedamaian.

...mari bersenang-senang dalam kedamaian...