I’ll never be the sameif we ever meet again
Aku sudah memilih ratusan huruf dari puluhan huruf yang tersedia,
Lalu, kurangkai huruf-huruf itu menjadi beberapa kata,
Beberapa kata itu pun ku buat menjadi sebuah kalimat.
Kalimat pengakuan dan permohonan yang ku tujukan untuk kamu.
Berulang kali aku merubah susunan kata dalam kalimat,
mengacaknya hingga menjadi satu kalimat datar penuh harap agar kamu paham apa mau ku.
Terus ku baca untaian kalimat-kalimat datar itu,
mengamati kata demi kata di dalamnya.
yah, aku rasa kalimat-kalimat ini sudah cukup mewakili diriku yang tak mampu berucap padamu.
ratusan kalimat itu aku rangkai dalam sebuah pesan singkat,
mungkin bukan pesan singkat lagi, karena ini menghabiskan 5 karakter tempat yang tersedia.
sampai suatu malam, aku merenung, berpikir tentang kalimat-kalimat datar itu.
haruskah aku mengirimnya pada kamu ??
apakah nantinya kamu bisa mengerti apa mau ku ??
Jika lewat tindakan nyata saja kamu tidak bisa mengerti, mungkinkah lewat kalimat-kalimat datar ini kamu mengerti ??
aku menyerah, aku lelah mencoba membuat kamu mengerti keadaan kita sekarang sudah sangat berbeda.
Tatapan mata, gerak badan ku sudah tak membuat kamu peka pada apa yang aku rasakan.
maka, kalimat-kalimat datar ini pun takkan pernah kamu anggap.
mungkin kalima-kalimat datar ini hanya dijadikan kumpulan kata-kata tak bermakana.
karena kamu melihatnya dengan mata, dan membacanya dengan mulut lalu menertawakannya dengan lantang.
Dan, aku memutuskan untuk mengabaikan kumpulan kalimat datar itu.
Biarlah kalimat datar itu tak terungkap, biarkan kalimat datar itu tak diketahui siapapun.
cukuplah kalimat datar itu ku simpan sendiri.
sampai saat nanti kamu bertanya padaku “apa yang terjadi?”
entah itu kapan, entah itu kamu pertanyakan atau tidak.
sampai saat itu tiba, aku tetap dalam diam. aku tetap akan tersenyum sama kamu.
biar kamu rasakan sendiri,makna dibalik senyumku. Makna yang sesungguhnya sudah berbeda dibanding senyumku padamu saat awal kita berjumpa.
senyum pedih, senyum lara yang slalu kamu anggap senyum bahagia.







0 komentar:
Posting Komentar